Kritik Serenyah Kripik

“Terluka lalu berhenti, atau merangkak untuk kembali pulih” -milis sekolah kehidupan-

Apa yang kau rasakan ketika mendapat pujian? Senang? Senyum? Berbunga-bunga? Pastinya. Sebuah pujian memang terasa begitu nikmat masuk ke dalam kalbu. Indaaaaaah sekalii… rasanya sang indera pun tak ingin beralih dari rangkaian puji yang mampu menerbangkan jiwa ke awang-awang- -maap rada diperlebay🙂 Lalu apa yang kau rasakan ketika dikritik? Sedih? Marah? Sakit hati? Sangat Mungkin. Dan kata “Capek tau! Atau “Sok tau lo!”😦 Tak jarang menjadi jawaban kekesalan kita. Wajar dan sangat manusiawi. Rasa senang dipuji dan marah dikritik. Dan fakta pun berkata, “manusia lebih suka dipuji daripada dikritik.”


Tapi rasa-rasanya fakta tersebut perlu direview. Jika dilihat dari sudut konsekuensi, sebenarnya lebih enak kalau kita mendapat kritikan. Maksudnya? Gini, ketika kita dipuji, konsekuensi yang harus digenggam adalah mempertahankan. Berbeda dengan kritik, yang konsekuensinya adalah memperbaiki. Contoh mesin mobil, ketika kita harus mempertahankan kondisi mesin, maka yang harus kita lakukan adalah merawat segala komponennya dengan istiqomah — istiqomah? Bukan hal gampang. Berbeda dengan memperbaiki, karena kita tinggal langsung menuju pada titik kesalahan, dan tak ada keharusan untuk memperhatikan komponen yang lain mwalaupun akan lebih baik jika memperhatikan kesemuanya. Dari sini, terlihat bagaimana kebenaran sebuah pepatah, “Mempertahankan lebih susah dibanding memperbaiki. ” So, Lebih enak mendapat kritik kan? Hehehe…🙂

Teringat sebuah nasihat–yang kurang lebih, “Jangan langsung membela diri ketika dikritik.” Hmmm…berat kan? Oh yeah! Siapa sih yang tidak ingin membela diri ketika dikritik, karena manusia memang mempunyai kecenderungan melawan ketika “diserang”.

Tapi, lagi-lagi, ketika ditilik lebih dalam, kritik memberi lebih banyak manfaat dibanding pujian. Seperti halnya nasihat di atas. Tindakan “jangan langsung membela diri” atau disama-artikan dengan menahan diri, memberi kita jeda waktu untuk bersikap. Tidak dipungkiri ketika kita membaca/mendengar sebuah kritik, yang pertama kali nimbrung dalam hati adalah emosi. Emosi yang kerap malah memperkeruh suasana. Ketika emosi dapat kita redakan, kemudian dikendalikan, kepala lebih mampu berpikir dengan “sehat” dan tenang, sehingga akan didapatkan tindakan yang lebih bijaksana.

Ketika mendapat kritik, seringkali membuat diri merasa dicambuk, sakit, terpuruk, merana lagi- lagi diperlebay😛. Tapi kalo dilihat dari diterima/tidaknya sebuah kritik, “kuasa” tertinggi  terletak pada tangan kita sendiri. Ya gak sih? Biar yang ngritik ampe berbusa-busa, tangan ampe kriting nulisnya, kalau kitanya gak terima. Ya tamatlah nasib si kritik. Dari sinilah kemudian kita diuji, bersediakah kita “merendahkan” diri untuk melakukan muhasabah [merenung]? Bersediakah kita meninggalkan ketakaburan, demi mencari sebuah kebenaran? Satu hal yang perlu dicatat, kedewasaan berfikir menuntut kita untuk menghadapi kritik, bukan malah menghindarinya.

Keren kan? Subhanallah. Dibutuhkan kebesaran hati untuk melihat dan menerima segala hikmah di balik kritik. Poin-poin berharga yang terasa lebih sulit dihasilkan jika yang kita dapatkan adalah pujian. Bukan kah, orang lebih mudah mengingat Allah SWT ketika susah dibanding senang?

Dan tak dipungkiri, dengan pengelolaan yang tepat, kritik akan terasa serenyah kripik. Well, sebait penutup yang diambil dari sebuah artikel berjudul “Menghadapi Kritik”, semoga semakin memperenyah rasa dari sebuah kritik.

“Kita harus selalu siap untuk menghadapi kritik demi mencari JALAN KELUAR bukan untuk mencari siapa yang BENAR dan siapa yang SALAH atau siapa yang PINTAR dan siapa yang BODOH.”

“Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s